Jumat, 25 September 2026

Mungkin.. Mungkin Juga tidak

     Agak sulit berbicara tentang hal ini kepada anak anak muda. Bayangkan sebuah skenario dimana seluruh kemauan dan keinginanmu tercapai. Hari dimana semua jenis syahwat sudah tertuntaskan. Rasa lapar , haus, keinginan untuk bercumbu, uang, badan sehat, keluarga bahagia, popularitas, jabatan. Imajinasikan hari dimana kau sudah mendapatkan semua itu, dan kau terduduk di pojok ruang di suatu malam , setelah seharian kau mendapatan semua yang syahwatmu inginkan.

lalu kau mulai bertanya, setelah ini apa ?

setelah keinginan semua syahwat terpenuhi, mungkin (mungkin juga tidak) , barulah kau bicara dengan dirimu yang asli. terduduk diam dan bertanya, apa yang kau inginkan. bukan yang syahwatmu inginkan.


tapi, sebenarnya apa yang benar benar kau inginkan ?

lalu mungkin (mungkin juga tidak) , kau teringat momen momen yang lebih sederhana, mungkin momen di masa kecil, atau momen dimana kau melihat senyuman tulus dari orang, atau momen dimana kau merasakan kehangatan dari teman atau keluarga. atau momen dimana kau menolong orang dan melihat kebahagian orang itu di wajahnya.

atau mungkin (mungkin juga tidak), malah penyesalan dan ketakutan yang datang. kesendirian dan kesunyian malah mendatangkan pasukan pasukan marah dendam dan takut, yang selama ini kau lari darinya. Pasukan itu membentakmu, mempertanyakan betapa pengecut nya dirimu, mematahkan kaki dan lenganmu  , dan menginjak lehermu. Meludahi dan mencerca sembari menyebutkan semua dosa dosa dan kebohonganmu.

Mana yang akan datang padamu dalam kesendirian, apakah momen momen simpel yang mendatangkan kebahagiaan, atau justru ketakutan dan penyesalan. itu terserahmu.

Aku rasa hal itu tergantung dari bagaimana caramu berbicara dengan dirimu sendiri. Bagaimana caramu memandang dirimu sendiri. 

Aku punya beberapa saran yang mungkin bisa membantumu (mungkin juga tidak). Yaitu "Maaf".
kau harus memaafkan dirimu, tapi kau juga tidak boleh memafkan dirimu. 
Aneh bukan.

Maksudku begini, secara garis besar kau harus selalu memafkan dirimu sendiri.
Kau berusaha terus untuk berbuat baik dan bermanfaat setiap hari, jujur dalam bergerak.
Tapi jangan kaget, kau akan menemukan dirimu salah, selalu,  dan berulang ulang. Kau harus memafkannya. Memaafkan supaya besok bisa bangkit dan  besok bisa berusaha untuk jadi orang baik lagi.

Tapi secara garis kecil, untuk hal hal kecil, ketika kau dihadapkan dengan tembok yang membuat mu harus disiplin, rajin, kerja keras, befikir keras, kau tidak boleh memafkan kelemahanmu , kau harus belajar memaki kelemahanmu sendiri.

"Bangsat, kalo gini kapan majunya , tolol tolol",
"Pemalas lu , babi , bangun tolol , ga ada yang akan nyelametin hidup lu" ,

Mungkin kalimat sejenis itu. Tamparan tamparan keras itu dilakukan dan dibiarkan untuk membuatmu bergerak, untuk menghancurkan atau melewati tembok tembok sulit.

Tapi pada akhirnya ketika sudah berusaha dan masih jatuh kau kembali ke garis besar, memafkan diri sendiri, begitu seterusnya.

Seperti yang ku bilang, hal ini mungkin berhasil (mungkin juga tidak). Jadi semua terserahmu, karena Allah sudah meniupkan ruh ke dalam badanmu lengkap dengan kebebasan untuk memilih (dan tidak memilih) yang kau pegang sendiri. Aku tak perlu dan tak ingin ikut campur, semua sebenarnya terserahmu. karena setiap konsekuensi, Pasti , (kali ini pasti) akan kembali ke pada dirimu sendiri

0 komentar :

Posting Komentar

Mari berkomentar dengan baik, benar, dan sopan :D

 
;