Selasa, 22 September 2026 0 komentar

Sejauh Ini, Semua Sementara Masih Hidup

September 2026, aku masuk ke ruangan rumah sakit. Ruang rawat inap, tapi kali ini berbeda, ini ruang rawat inap paska operasi besar. Ruangan ini berbeda sekali, tempatnya luas , dinding nya kaca, aku bisa lihat semua pasien di ruang besar itu. Kebanyakan pasien lansia, ada juga 1 pasien aku lihat masih cukup muda.

Siang ini adlaah giliranku jaga nenek ku yang sedang sakit, paska operasi besar. Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, tapi ya ia masih harus dalam perawatan, tentu saja.

Di ruangan besar ini, suara suara orang mengeluh , mata mata yang sayu , perawat yang lalu lalang, rintihan rintihan, semua terlihat ... kontras. Kontras dengan dunia luar. Ruangan ini sibuk sekali.

tepat di samping nenekku, aku melihat seorang pasien, berusaha bangun dari tempat tidurnya. 
Bu kenapa bu, butuh apa ? aku bertanya.

Aneh sekali, ibu itu melihatku tapi tak bicara apa apa, tatapannya seperti kosong, tapi seperti ada. Tangannya mencoba menggapai pinggir kasurnya. Ia sepertinya sedang kesakitan , tapi mulutnya tak terbuka, seperti orang yang tidak bisa bicara.

"Aku panggilkan suster ya , sebentar bu" kataku.
Suster datang, dan ternyata, ibu itu mau muntah, suster memberikan kantung muntah.

"Ibu belum pipis ya, saya pasangkan ini ya" kata suster.
suster menyebut alat yang aku tak tahu pasti.
tapi sepertinya ia buang air kecil dari sebuah selang. Entahlah.

Tak lama keluarganya datang, satu anak perempuan muda, satu perempuan tua , lebih tua dari pasiennya, dan satu laki laki paruh baya. mereka terlihat biasa saja, sedih, tapi tidak histeris.
setelah berbincang sebentar, mereka pun keluar.

Aku berpapasan dengan mereka di depan lift.
perempuan muda yang menjenguk tadi duduk meringkuk menangis di lantai.

"ohh pura pura kuat ternyata di dalam tadi", gumamku.

Tempat ini mengerikan.
mengerikan sekali.

lebih mengerikan dari film horror manapun.
tempat ini seperti menghancurkan realita, seperti membanting cermin hingga pecah berkeping keping. dan cermin itu tak bisa di satukan kembali. Bukankah orang orang ini dulu pernah muda, pernah berjaya, pernah mungkin berkuasa, berotoritas.

Jam besuk selesai, aku pergi ke taman bawah, taman yang bagus, malah membuat semua menjadi semakin kontras, kotnras sekali dengan ruangan di atas.

sepertinya, kita semua hanya sedang antri, antri mati.
satu hal yang terbesit dipikiranku, aku benci menyusahkan orang lain.
mudah mudahan nanti aku tak menyusahkan orang,

tentu bukannya aku menganggap orang orang yang sedang sakit menyusahkan, tentu saja aku dengan senang hari memberikan sesuatu .Tapi kalau aku bisa memilih tentu saja aku tak mau menyusahkan orang lain. Ahh kau pasti paham maksudku.

Oke balik lagi ke kematian,
eh kehidupan.


Kematian atau kehidupan, hanya dibatasi sehelai kain realita yang sangat tipis, bahkan mungkin tak usah menunggu tua, sakit dan mati bisa saja menghampiri. 

Tapi sore ini, masih ada segelas kopi, yang bisa aku nikmati.
mungkin besok hidup masih bisa bermanfaat, satu atau dua hal.
tapi satu yang pasti. Mati.

Mungkin kita bisa berdamai dengan kematian, bukan dengan menghindarinya tentu saja.
tapi dengan menikmati, menikmati apapun itu, entah hanya secangkir kopi, atau sebungkus nasi, atau bahkan pekerjaan pekerjaan yang menumpuk. Sayang sekali kalau itu tak dinikmati.
aku rasa bahkan, satu tarikan nafas sempurna yang bisa kita lakukan sekarang, harusnya bisa kita lebih nikmati, justru lebih kita nikmati karena nanti ada mati.

Aku fikir manusia kadang terjebak sesuatu ketakutan, atau kenaifan.
Tentang mati, seperti orang yang berdoa "sehat selamanya ya, sehat selamanya ya "
Coba pikirkan kembali, apa ada manusia yang mau sehat selamanya.
80 tahun, 90 tahun, 100 tahun, 120 tahun ?
200 tahun ? katakan kepadaku siapa di antara kita yang mau sehat selamanya ?
Karena itu aku pribadi lebih sendang berdoa, semoga Allah berikan kebaikan yang besar untukmu.

ini mengingatkanku pada cerita ayahku dulu.
ada seorang nenek tua datang ke warung ayahku, sudah tua sekali. Ayahku berkata "Wah hebat Nenek sudah tua masih gagah ya , moga panjang umur nek "

Nenek itu malah menjawab , "Jangan, jangan di doain panjang umur"
ternyata dia "sudah bosan" juga untuk hidup ,
mungkin ada saatnya manusia merasa seperti itu, secara natural.

Aku mencoba melihat dari kacamata perspektif nenek itu,
ketika teman teman sudah tidak ada, kerabat tak ada, generasi seumuran tidak ada, celingak celinguk, tak ada lagi generasi sebaya, apa manusia pada saat seperti itu malah tidak merasa "ditinggal" oleh yang lainnya ?

Tentunya aku tak bermaksud untuk meremehkan kehidupan dan menyumpahi orang untuk mati.

tapi kematian, sepertinya suka tidak suka mau tidak mau akan datang. Dan kita semua tanpa terkecuali akan dihadapkan pada pertanyaan ? bagaimana kau menyambutnya ? dengan keluhan, dengan ketakutan , atau mungkin, apa kita bisa menyambutnya dengan senyuman dan kerelaan ? entahlah, kau yang beritahu aku. 

 
;