Oktober 2026, Seringkali di sore hari aku melihat orang orang berkumpul, di kafe , di pinggir jalan, di tempat makan, di taman, di warkop. Seperti biasa, kebanyakan dari mereka bercerita, bercerita dan terus bercerita. Mengeluh, bercanda, atau malah memamerkan apa yang sedang mereka punya. Dan tentunya seringkali membicarakan orang lain.
Oke , aku disini tidak untuk membicarakan kesalahan atau kekurangan mereka, tapi aku hanya sedikit berkhayal.
aku berkhayal bertemu dengan tukang tukang ojek, S1 ataupun bahkan mungkin S2, aku berkhayal mereka bercerita dulunya adalah juara kelas, orang tua mereka membanggakan dan menaruh harapan besar kepada mereka. Tentu wajah yang berbinar binar, raut muka yang cerah, mata yang ceria ketika dahulu mereka meraih juara kelas, atau ketika mereka di wisuda bukan, sungguh sebuah pemandangan yang indah.
aku berkhayal aku berbicara dari hati ke hati dengan mereka, bercengkrama, bercerita, tentang mimpi mimpi mereka. Aku yakin mereka punya, mimpi mimpi yang dahulu terbit bagaikan matahari. Aku ingin dengar semuanya, aku ingin dengar antusiasnya.
aku berkhayal diantara mereka ada yang ingin berkarya, berkarya dan bermanfaat untuk orang disekitarnya. Ingin punya brand baju sendiri , ingin buat aplikasi sendiri, ingin ternak ikan, ayam, atau domba, ingin jadi manajer dari perusahaan yang bukan hanya bekerja karena uang , tapi juga dengan semangat ingin berkarya dan bermanfaat untuk sesama.
Aku berkhayal mereka bercerita betapa inginnya mereka membangun keluarga, tak perlu besar, kecil pun tak mengapa, meniti dari bawah , yang penting ada atap dan makan dan bisa pulang bercengkrama. Mungkin dalam beberapa belas tahun meniti bisa punya mobil dan rumah sendiri. Tak mengapa sedikit bersabar , yang penting tak menipu, tak banyak hutang, dan tak malu maluin keluarga.
lalu aku berkhayal, mereka memaparkan rencananya, rencana rencana hebatnya, betapa inginnya mereka membuat sesuatu yang besar, sesuatu yang hebat, sesuatu yang berguna bahkan bisa menyelamatkan orang banyak.
lalu aku menangis. Menangis tanpa air mata. aku tak mau membuat mereka berkecil hati. Orang orang hebat biasanya tidak senang dikasihani.
"Sudah , kopinya sudah aku bayar", ucapku,
lalu tersenyum kepada mereka.
dalam perjalanan pulang aku melihat berita seperti biasa.
"Jutaan lapangan kerja", "hah ? jutaan lapangan kerja ?"
Aku benci sebenci bencinya
Aku benci penipu
berdasi berkemeja berjas bermobil mewah
persetan mereka semua
Persetan para pengubur mimpi orang lain
aku scroll layar HP ku, isinya
penipu pertama
penipu kedua
penipu ketiga,
penjilat pertama,
penjilat kedua,
penjilat ketiga.
seperti biasa , aku menghela nafas
dan berharap,
besok ada pahlawan turun dari langit membereskan urusan semua umat manusia
oh tunggu dulu, aku sudah muak juga dengan harapan itu.
aku hanya berharap besok bisa bermanfaat walau hanya secangkir kopi untuk orang lain
dan mendengarkan cerita cerita mereka.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)